type='html'>Sally Marcelina, Nurul Arifin, Yurike Prastika, Sophia Latjuba adalah nama selebritis di era 80 dan 90an yang sering kali tampil seksi. Bahkan beberapa selebritis pernah menyandang ‘label artis bomsex‘ karena penampilan mereka yang kelewat berani. Namun masa itu sudah berlalu dan penampilan mereka pun ikut berubah. Dari yang dulu seksi, kini lebih memilih tampil tertutup dan sopan. Dan meski kini popularitas mereka mulai pudar dan tersisih pendatang baru yang lebih ‘seksi’, tapi tak bisa dipungkiri penampilan mereka dulu masih masih terasa berkesan sampai saat ini.

Continue Reading »
Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Mei 2011
Senin, 02 Mei 2011
Taukahkamu; Otak Burung Kota Lebih Besar dari pada Burung yang Hidup di Alam Liar
Sekelompok peneliti asal Swedia dan Spanyol yang dipimpin oleh pakar biologi Alexei Maklakov, melakukan survei terhadap 82 spesies burung gereja, termasuk burung pipit serta jenis burung lain yang umum bertengger di 12 kota besar di kawasan Eropa tengah.
Mereka kemudian membagi burung-burung itu ke dalam kelompok yang lahir dan besar di perkotaan serta mereka yang besar di kawasan pinggiran. Kemudian peneliti membandingkan ukuran otak kedua kelompok burung itu.
Hasilnya, seperti dimuat di jurnal Biology Letters, burung yang hidup di kota besar memiliki otak yang lebih besar dibanding burung sejenis yang tinggal di pedesaan.
Peneliti memperkirakan, burung membutuhkan otak yang lebih besar dibanding burung-burung di kawasan lain agar mampu bertahan dalam lingkungan perkotaan yang penuh tantangan.
"Ini merupakan pertama kali ukuran otak diketahui menjadi faktor utama keberhasilan seekor hewan bertahan dalam lingkungan tempat tinggalnya," kata Maklakov, seperti dikutip dari Earthweek, 30 April 2011.
Namun demikian, tetap ada beberapa pengecualian. "Beberapa jenis spesies burung berotak kecil cukup beruntung karena tetap mampu bertahan hidup di kawasan perkotaan yang dekat dengan habitat asli mereka," ucapnya.
Dalam laporannya, para peneliti juga menyebutkan, pemerintah kota yang ingin mengundang burung-burung liar untuk tinggal di kotanya perlu membuat kawasan mereka semirip mungkin dengan habitat asli para burung.
Selasa, 19 April 2011
Ternyata Lidah Bunglon Lebih Cepat 5x Dari Jet Tempur
type='html'>
Buku-buku teks zologi menjelaskan bahwa lidah balistik bunglon diperkuat oleh seutas otot pemercepat (akselerator). Otot ini memanjang ketika menekan ke bawah pada tulang lidah, yang berupa tulang rawan kaku di tengah lidah, yang membungkusnya. Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang telah disetujui untuk diterbitkan oleh majalah ilmiah Proceedings of the Royal Society of London (Series B), dua ahli morfologi yang memelajari kebiasaan makan bunglon menemukan unsur-unsur lain yang terkait dengan gerakan cepat lidah binatang ini.
Kelompok-kelompok otot ini sama sekali tidak saling menghalangi fungsi masing-masing, namun bekerja dengan cara yang terselaraskan dalam menghantam mangsa dan menarik lidah kembali ke mulut dalam waktu kurang dari sedetik. Tambahan lagi, berkat kerjasama antara sistem penglihatan dan otak, kedudukan mangsa diukur dan perintah bagi lidah balistik untuk “menembak!” diberikan oleh syaraf yang mengirimkan isyarat di dalam otak.
sumber
Continue Reading »
Tuhan menciptakan sesuatu dengan desain yang maha sempurna. Desain organ pada binatang telah didesain sedemikan rupa sesuai dengan makanannya. Begitu juga bunglon. Akan tetapi dari binatang ini ditemukan fakta mencengangkan. Fakta tersebut adalah kecepatan super lidah bunglon menangkap mangsanya.
Jurriaan de Groot dari Universitas Leiden, dan Johan van Leeuwen dari Universitas Wageningen, mengambil film-film Sinar X berkecepatan tinggi, yakni 500 bingkai per detik, dalam rangka menyelidiki bagaimana lidah bunglon bekerja ketika menangkap mangsa. Film-film ini menunjukkan bahwa ujung lidah bunglon mengalami percepatan 50 g (g = konstanta gravitasi). Percepatan ini lima kali lebih besar daripada yang dapat dicapai oleh sebuah jet tempur.
Buku-buku teks zologi menjelaskan bahwa lidah balistik bunglon diperkuat oleh seutas otot pemercepat (akselerator). Otot ini memanjang ketika menekan ke bawah pada tulang lidah, yang berupa tulang rawan kaku di tengah lidah, yang membungkusnya. Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang telah disetujui untuk diterbitkan oleh majalah ilmiah Proceedings of the Royal Society of London (Series B), dua ahli morfologi yang memelajari kebiasaan makan bunglon menemukan unsur-unsur lain yang terkait dengan gerakan cepat lidah binatang ini.
Para peneliti ini membedah jaringan lidah dan menemukan bahwa otot pemercepat sama sekali tidak cukup kuat untuk menghasilkan gaya yang diperlukan ini sendirian. Dengan meneliti lidah bunglon, mereka menemukan keberadaan sedikitnya 10 bungkus licin, yang hingga saat itu belum diketahui, di antara otot pemercepat dan tulang lidah.
Bungkus-bungkus ini, yang melekat ke tulang lidah di ujungnya yang terdekat dengan mulut, teramati mengandung serat-serat protein berajutan spiral. Serat-serat ini memadat dan berubah bentuk ketika otot pemercepat mengerut dan menyimpan tenaga bagaikan seutas pita karet yang tertekan.
Ketika mencapai ujung bulat tulang lidah, bungkus-bungkus yang ketat dan memanjang ini secara bersamaan menggelincir dan mengerut dengan kekuatan dan melontarkan lidah. Secepat serat-serat ini menggelincir dari tulang lidah, bungkus-bungkus saling memisahkan diri bagaikan tabung-tabung sebuah teleskop, dan karena itu lidah mencapai jangkauan terjauhnya. Van Leeuwen berkata, “ini adalah ketapel teleskopis.”
Ketapel ini memiliki ciri lain yang amat menyolok. Ujung lidah mengambil bentuk hampa pada saat menghantam mangsa. Ketika terlontar, lidah ini dapat menjulur sejauh enam kali panjangnya ketika istirahat di dalam mulut, dan dua kali panjang tubuhnya sendiri.
Kelompok-kelompok otot dengan sifat-sifat yang berbeda secara tanpa cela melontarkan lidah, memercepatnya, menyebabkan lidah mengambil bentuk isap ketika menghantam mangsanya dan lalu cepat-cepat menariknya.
Ketapel ini memiliki ciri lain yang amat menyolok. Ujung lidah mengambil bentuk hampa pada saat menghantam mangsa. Ketika terlontar, lidah ini dapat menjulur sejauh enam kali panjangnya ketika istirahat di dalam mulut, dan dua kali panjang tubuhnya sendiri.
Kelompok-kelompok otot dengan sifat-sifat yang berbeda secara tanpa cela melontarkan lidah, memercepatnya, menyebabkan lidah mengambil bentuk isap ketika menghantam mangsanya dan lalu cepat-cepat menariknya.
sumber














