Tampilkan postingan dengan label Kenapa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenapa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2011

Kenapa Orang Asia Paling Susah Keluarkan Ekspresi Rasa Bahagia ?



Berbeda dengan orang barat yang sangat ekspresif mengungkapkan rasa bahagianya dengan mengabarkan keberhasilan atau kesenangan ke orang lain, orang Asia sangat susah berlaku demikian.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan psikolog dari University of Washington, orang Asia lebih sulit mengekspresikan rasa bahagianya serta susah untuk berpikiran positif karena percaya rasa bahgia itu akan cepat berlalu.

Tipikal budaya orang Asia bahwa hidup tidak hanya berisi kebahagiaan membuat mereka khawatir merayakan kebahagiaan secara berlebihan. Kebanyakan orang Asia percaya, selalu ada kesedihan sesudah merayakan kebahagiaan.

Survei yang dilakukan terhadap mahasiswa Asia menunjukkan tidak adanya hubungan emosi positif dengan penurunan kadar stres atau depresi. Hal ini terlihat berbeda dengan orang Eropa dan Amerika yang justru menunjukkan adanya kaitan emosi positif terhadap penurunan kadar stres dan depresi sehingga lebih ekspresif dalam mengungkapkan kebahagiaan.

Studi ini melibatkan 633 mahasiswa asal Asia, Amerika-Asia dan Eropa-Amerika. Penelitian ini untuk melihat perilaku ketika mengalami stres dan depresi, seberapa sering memiliki suasana hati yang sedih, merasa tidak berharga atau perubahan tidur dan nafsu makan.

Peserta juga dinilai intensitas emosi positif yang dirasakannya termasuk perasaan tenang, percaya diri, sukacita dan perhatian.

Hasilnya, didapatkan bahwa pada peserta Eropa-Amerika menunjukkan emosi positif atau berpikiran positif akan berdampak pada menurunnya tingkat depresi dan stres. Sedangkan pada kelompok Asia-Amerika hanya sedikit pengaruh emosi positif itu pada penurunan kadar stres.

Sebaliknya pada orang Asia murni sama sekali tidak ditemukan pengaruh emosi positif terhadap penurunan tingkat stres. Temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang Asia menafsirkan dan memiliki reaksi emosi positif yang berbeda pada kesehatan mentalnya.

"Orang Asia beranggapan kebahagiaan yang muncul adalah sinyal sesuatu yang buruk akan terjadi selanjutnya, dan mereka percaya rasa bahagia tersebut akan cepat berlalu," ujar Janxin Leu.

Kurangnya pengaruh emosi positif terhadap ekspresi bahagia pada orang Asia diduga karena sebagian besar orang Asia selalu berpegangan pada prinsip Yin dan Yang, yang menanamkan keseimbangan alami untuk hal baik dan buruk.

Kondisi ini pula yang turut mempengaruhi orang Asia untuk sulit mengekspresikan kebahagiaan dan pikiran positifnya.

"Jadi terapi yang mengandalkan emosi dan berpikir positif pada orang barat mungkin tidak akan cocok digunakan untuk orang Asia dan bisa saja membuat pasien merasa lebih buruk," ungkap Leu.
Continue Reading »

Minggu, 01 Mei 2011

Alasan Kenapa Lalat Sulit Dipukul

type='html'>


Sudah berapa kali Anda berhasil memukul lalat dengan tangan? Sulit bukan? Rahasia di balik kemampuan tersebut kini telah diketahui penjelasannya.

Selama 20 tahun meneliti biomekanika sayap lalat, Michael Dickinson dari Institut Teknologi California (Caltech) baru memecahkannya sekarang. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya.

"Sekarang saya punya jawabannya," ujar Dickinson yang melakukan penelitian bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merekam manuver sejumlah lalat yang terancam pukulan menggunakan kamera digital yang dapat merekam dengan kecepatan dan resolusi tinggi.Mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otanya akan menghitung seberapa jauh ancaman terhadapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabur.

Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya 100 milidetik setelah ia mendeteksi adanya bahaya.

"Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjadi respons gerakan yang sesuai," ujar Dickinson. Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman.

Artinya, lalat telah mengintegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik di kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman.

"Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya," ujarnya.

Dari sistem tersebut, Dickinson juga dapat menyarankan cara paling efektif memukul lalat. Menurutnya, waktu terbaik memukul lalat bukan saat posisinya siap terbang sehingga waktu yang dibutuhkannya untuk mengantisipasi ancaman tersebut relatif lebih lama. Tentu tak mudah melakukan gerakan akurat kurang dari 100 milidetik.

sumber : http://keunikan-dunia.blogspot.com/2009/10/alasan-kenapa-lalat-sulit-dipukul_17.html
Continue Reading »